Cara Mengurus Akta Kematian yang Hilang di Dukcapil

Masyaheril : Suporter SFC Dulu Bernama Fans Sriwijaya


PALEMBANG, GNL - Klub Liga 2 musim 2022 Sriwijaya FC (SFC) memiliki tiga kelompok suporter resmi, namun banyak yang belum tahu jika dulu hanya ada satu nama kelompok suporter SFC yaitu Fans Sriwijaya. 


Cuplikan singkat sejarah ini diungkapkan Masyaheril, salah satu pendiri kelompok suporter SFC pertama kali saat masih bernama Persijatim Solo Sriwijaya FC. 


Ia menuturkan, awal terbentuknya suporter SFC ini dimulai tahun 2004, pasca Provinsi Sumatera Selatan menjadi tuan rumah PON 2004. 


Lalu, setelah  Sumsel sukses menyelenggarakan PON  2004,  sukses prestasi, sukses ekonomi kreatif di zaman Gubernur Sumsel Syahrial Oesman. Dirinya   sebagai  penggemar olahraga melihat  ada yang  tidak sukses.


“Ada yang tidak sukses itu  dari sisi pendukung olahraganya," kata Masyaheril kepada Goesnalist.my.id.


Ia mengatakan, waktu Sumsel bertanding bola voli melawan tim Jatim banyak suporter Bonek  pendukung Jatim yang ternyata jadi pendukung Jatim itu berasal dari Palembang.  


Sejak itulah, Masyaheril berniat ingin mengumpulkan orang-orang penggemar olahraga di Palembang untuk menjadi suporter olahraga.  


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Gubernur Sumsel saat itu mengumumkan pasca PON 2004  Sumsel akan take over klub sepak bola Persijatim Solo FC. Mendengar ini Masyaheril bersemangat mendukungnya, karena Sumsel khususnya Palembang belum memiliki suporter fanatik.

 

Kemudian Masyaheril membuat tulisan di koran lokal, tentang pro kontra pembelian SFC. “Tulisan itu menjadi pro kontra, ada yang mendukung dan ada menghujat," Eril mengenang.


Sejak tulisan di koran lokal tersebut muncul, ada temannya yang mendukung mendirikan  kelompok suporter dan dibentuklah kepengurusan. Masyaheril  dijadikan  ketua,  Eddy Dharmansyah wakil ketua dan Mirwan Sayuti sebagai sekretaris. 


Kemudian  dibukalah pendaftaran untuk menjadi anggota suporter SFC dan akhirnya didapatkan 70 orang anggota di tahun 2004.


Ia mengungkapkan, jauh sebelum ada tiga kelompok suporter SFC  saat ini   Singa Mania, Simanis Ultras Palembang dan Sriwijaya Mania. Dulu kelompok suporter SFC hanya satu, kelompok suporter SFC pertama kali adalah Fans Sriwijaya FC pada tahun di 2004.


“Setelah mubes (musyawarah besar) tahun 2005 diganti nama menjadi Sriwijaya Mania. Tahun itu menjelang kompetisi jumlah anggota  mencapai 2.000 orang. Saya  tidak lama menjabat  ketua dan digantikan Edi Ismail," ucap Eril.


Awalnya, suporter SFC belum ada warna jersey, sehingga pada laga kandang SFC kelompok suporter sepakat menggunakan jersey warna hitam. Setelah itu manajemen membuka diri untuk suporter dan disepakati baju suporter warna kuning keemasan, yang identik dengan warna kerajaan Sriwijaya. 


Eril mengenang, saat itu  pemain SFC  Ferry Rotinsulu dan Toni Sucipto terkejut saat  pertama  datang ke Palembang.
“Karena di Palembang  belum ada klub sepak bola, tapi sudah ada suporternya, sehingga mereka antusias dan tidak pindah dari SFC," kata Eril sapaan akrabnya.


Ujian suporter saat itu cukup berat, karena SFC yang kalah di lima laga awal, lalu suporter SFC bergerak membantu memberikan shock teraphy kepada calon-calon lawan yang datang ke Palembang dengan berbagai cara, baik di dalam stadion atau di luar stadion, dan terbukti membuat mental para pemain lawan terpengaruh.


Fans Sriwijaya juga berkontribusi dalam pemilihan pelatih SFC, saat manajemen akan mengganti Erick William dengan Jenni Wardin suporter menolak, karena Jenni pelatih tim dari kasta bawah. Suporter saat itu menilai, SFC butuh pelatih yang sudah berprestasi dan berpengalaman, pasalnya SFC sedang terpuruk. 


Lalu muncullah nama Suimin Diharja yang memang secara prestasi sudah pernah mencicipi  juara kompetisi era Perserikatan, suporter pun mendukung, dan terbukti bisa menyelamatkan SFC.


Terakhir,  sesepuh suporter SFC ini menyampaikan pesan,  agar suporter SFC menjadi suporter yang fanatik namun intelek. Artinya suporter lebih dewasa, misalkan ada larangan jangan menyalakan flare maka jangan dilakukan, karena klub akan terkena denda. 


"Intelek itu kan kalau sudah tahu dilarang jangan dilakukan," kata ASN di Kementrian Agama Palembang ini.


Ia juga berharap, tidak ada lagi  bentrok antar suporter SFC ke depannya, karena hingga musim 2020 ini masih ada bentrok antar dua kelompok suporter SFC.

Komentar